Postingan

Pop! Pop!

 Pop! Letupan kecil dari berondong jagung yang kubuat mulai terdengar. Pop! Pop! Pop! Kian riuh terdengar pertanda hampir saji. Pop! Pop! Pop! Letupannya mereda. Wanginya menyeruak ke seluruh ruangan seolah mengatakan mereka siap disantap. Manis. Gurih. Rasa yang sedari tadi kubayangkan selama menantinya. Letupannya kini berpindah. Di dalam perut lalu menjalar menuju bagian dadaku. Mentransfer rasa bahagia dalam memoriku. Andai semua letupan berakhir manis seperti ini. Mungkin berondong jagung bukan satu-satunya yang selalu kunantikan di akhir pekan. Kini letupannya berakhir di indra penglihatanku. Membuat bayangan samar. Menjalar menjadi isak. Ah, letupan lain yang kunanti entah sejak kapan Akhirnya berakhir hari ini. Semoga. Ini letupan terakhir. Yang dapat kunikmati manisnya. Rasanya gurih. Persis berondong jagung yang baru saja kunikmati. Terima kasih. Kau makanan ringan kesukaanku mulai hari ini. Kuharap rasamu tak kan berubah di lain waktu. Kuharap kau satu-satunya yang dapat...

bukan rahasia

aku benci bisa mengenalmu seperti ini. benci bagaimana kamu dapat mengenaliku. mengenal siapa diriku sebenarnya. mau bagaimana pun, tapi aku tetap menyukaimu. kamu dan segala keunikanmu. bagaimana kamu mengenal dirimu sendiri. bagaimana kamu menjaga jarak denganku. dan bagaimana kamu perlahan menghilang. tingkahmu yang membuat aku terpesona dan jatuh. obrolan singkat malam itu, sungguh masih terekam jelas dalam ingatanku. saat dimana kamu masih belum mengenalku, sampai akhirnya kamu mengetahui siapa aku yang sebenarnya. aku rasa kamu sudah banyak salah paham. bagaimana bisa kamu menilai siapa aku hanya dengan sepenggal obrolan tengah malam. tapi tak apa. aku akan tetap menjadi pengagummu, meski kini bukan secara rahasia lagi. tolong ingat aku sebagai pengagum dirimu, bukan yang lain. kutulis yang satu ini singkat saja. sesingkat obrolan tengah malam kita tempo hari. meski tak menghilangkan kesalahpahaman yang ada. setidaknya kutulis ini sebagai kenangan kecil dalam ingatanku...

Akhir penantian

Bahagiaku selama masa penantian kini bertambah. Setelah aku akhirnya bertemu denganmu. Terasa sempurna untuk dirasa. Dan kuharap rasa ini abadi adanya. Bagaimana kamu tetap menggenggam erat tanganku saat aku hampir terjatuh. Bagaimana kamu tetap menyemangatiku saat aku mulai lelah. Bagaimana kamu mengajarkan aku untuk tetap menyuskuri apapun yang telah terjadi. Caramu, tingkahmu, tuturmu, semua hal yang ada padamu terlalu indah untuk kumiliki. Ternyata seindah ini jatuh cinta pada orang yang tepat. Tiap tangisku karenamu hanyalah tangisan bahagia. Selebihnya tak lain hanyalah tawa bahagia. Aku bersyukur bisa berproses bersama denganmu. Menjadi lebih dewasa dalam banyak hal. Aku bersyukur memilikimu disisiku. Tak pernah seberani ini menjadikan orang lain sandaranku sebelumnya. Tapi ini kamu. Itu tak apa jika orangnya adalah kamu. Jika masa yang ini berakhir nanti. Aku harap di detik terakhir pun aku masih bisa menggenggam tanganmu. Kuharap aku mengakhirinya dengan...

Untuk Dia yang Baru

Halo, pengantar tidur terbaikku. Apa kamu masih ingat pesan terakhir yang kukirim padamu? Karena kau tak kunjung menjawabnya, biarkan aku bertanya sekali lagi di sini. Bagaimana kabarmu? Aku harap jauh lebih baik sekarang. Bagaimana hari-harimu setelah kepergianku? Jauh lebih baik, bukan? Aku baik di sini. Tak pernah merasa sebaik ini sebelumnya. Sudah kubilang kan, kalau aku pun berhak bahagia dengan caraku sendiri. Meski terkadang aku masih suka merindu, tapi tak apa. Aku menikmatinya dengan caraku sendiri. Apa kamu pernah merindu juga sejak kepergianku? Kalau pun tidak, ya, tak apa. Aku sadar diri karena diriku tak semerindukan itu. Kau tahu? Aku benci untuk menjadi seorang cadangan. Bahkan untuk menjadi pemain utama yang dapat tergantikan kapan pun, aku tak mau. Aku ingin selalu menjadi pemain tetap. Pemain utama yang unik dan selalu dapat diandalkan. Sejujurnya, menggelikan untuk kembali menulis hal picisan seperti ini. Tapi aku hanya ingin kamu tahu. ...

larut malam

aku senang terhanyut dalam tiap obrolan larut malam denganmu. tanpa khawatir akan hari esok, seakan malam pun tak kenal waktu. rasanya 24 jam pun bahkan tak cukup untuk satu hari. obrolan larut malam yang tak tahu kemana arahnya. hanya berlalu hingga kantuk datang. berakhir pun seolah tanpa akhir yang pasti. karena obrolan malam kemarin akan terus berlanjut hingga malam selanjutnya. aku senang menghabiskan waktu bersama denganmu. meski hanya melalui obrolan larut malam yang singkat. tapi itu bermakna bagiku. omong kosong, kata orang. tapi aku senang. karena bicara omong kosong tidak akan benar-benar berarti jika itu aku dan kau yang lakukan hingga larut malam. karena bagiku semua orang berubah saat larut malam. aku suka itu. aku jadi lebih menunjukan sisiku yang sebenarnya. karena sudah terlalu lelah bersandiwara selama satu hari penuh. kamu saat larut malam, benar-benar kamu yang aku sukai. bergurau tanpa repot memikirkan respon lawan bicaramu, mengeluh tanpa ...